
Sejarah rempah di Ternate membentang dari zaman kerajaan lokal yang maju, perdagangan lintas budaya sebelum abad modern, hingga era kolonial dengan bentrokan kekuasaan global. Pulau Ternate menjadi simbol penting bagaimana rempah mengubah arah politik regional dan global, sekaligus meninggalkan warisan arsitektur, budaya, dan identitas yang masih hidup hingga kini. Ternate bukan sekadar pusat rempah, melainkan saksi hidup perjalanan sejarah jalur rempah Nusantara. Ternate memiliki peran besar dalam sejarah global karena menjadi salah satu penghasil utama cengkih dan pala sejak abad ke-15. Potensi ini sebenarnya bisa dijadikan materi pembelajaran tersendiri, baik dalam bentuk muatan lokal (mulok) maupun integrasi ke mata pelajaran sejarah, geografi, dan ekonomi. Banyak daerah di Indonesia sudah mengembangkan muatan lokal sesuai dengan kekayaan budaya atau sumber daya alam mereka. Ternate pun bisa mengembangkan kurikulum “Sejarah dan Budaya Rempah Ternate”

Rempah-rempah memiliki kedudukan istimewa dalam perjalanan sejarah bangsa, karena komoditas ini menjadi daya tarik utama kedatangan bangsa-bangsa asing ke Nusantara. Perdagangan rempah memicu interaksi antarbangsa, bahkan menjadi latar belakang utama kolonialisme yang berlangsung selama berabad-abad di Indonesia. Dengan demikian, memahami sejarah rempah tidak hanya berarti mempelajari aspek ekonomi masa lalu, tetapi juga menyadari peran strategis Indonesia dalam percaturan dunia. Namun, minat siswa terhadap sejarah sering kali dipandang kurang, terutama karena metode pembelajaran yang monoton atau dianggap tidak relevan dengan kehidupan masa kini. Oleh karena itu, Riset rempah sangat penting tidak hanya memberikan kontribusi kepada pemerintah untuk merumuskan kebijakan tentang merawat rempah sebagai ikon Kota Ternate tetap juga untuk melihat potensi renpah sebagai bagian dari kurikulum di satuan pendidikan sebagai upaya mewariskan fungsi, makna dan nilai nilai strategis dari rempah itu sendiri.


