
Kota Ternate merupakan salah satu wilayah yang memiliki warisan geologi dan keanekaragaman geologi yang berniali tinggi termasuk keragaman hayati dan budaya yang menyatu dan hingga saat ini masih terpelihara dengan baik. Warisan geologai dan warisan budaya baik benda maupun tak benda memiliki fungsi dan nilai yang tinggi bagi keseimbangan dan keberlanjutan hidup masyarakat lokal.
Penelitian yang dilakukan Tim Pusat Kolaborasi Riset Maluku Utara yang bekerja sama dengan Bapelitbangda Kota Ternate bertujuan untuk mengetahui keragaman kearifan lokal beserta nilai yang terkandung dalam setiap keragaman tersebut, menferivikasi serta klasifikasi hasil temuan serta mendeskripsikan mekanisme kelembagaan adat fungsi serta mekanisme kerja dalam mengelola sumber daya yang mendukung geopark Ternate serta identifikasi peluang dan tantangan pengembangan geopark.
Hasil temuan di empat wilayah riset yang sengaja dipilih untuk mewakili konfigurasi geografi, budaya, sosial dan agama. Mengkonfirmasi sejumlah temuan penting antara lain:
Pertama : Kota Ternate memiliki warisan geologi dan arkeologi yang sangat variatif. Warisan geologi dan arkeologi yang berada di kelurahan Foramadiahi, Tubo, Takome dan Hiri dalam bentuk bebatuan dan situs arkologi seperti kuburan (jere) yanghingga kini sebahgian masih terpelihara dengan baik namun sebahgian kini dalam kepunahan akibat rantai sejarah yang terputus.
Kedua : Kearifan Lokal dalam berbagai aspek masih terpelihara dengan baik seperti, ritual, untuk menjaga keseimbangan semesta melalui ritual tawaf dan sigofi gam, arwahang, tagi jere, taji besi, wonge dll.Kearifan lisan dalam menjaga harmoni kemanusian yang bernilai tinggi terutama dalam menjaga relasi dan harmoni kemanusian dan seperti dorobolo dalil tifa dan dalil moro. Sejumlah permainan tradisional hingga kini masih terawatt meskipun sebahgian membutuhkan perhatian serius agar tidak punah.
Ketiga: pada aspek pengembangan ekonomi lokal, sejumlah hasil kreatifitas warga lokal di wilayah riset memiliki kemampuan untuk mengelola sumber daya lokal untuk menghasilkan sejumlah minuman dan makanan serta obat obatan seperti, pengolahan minyak cengkih di Tubo dan Pulau Hiri, Sari bauah dan sirup pala di Foramadiahi dan Hiri. Begitu juga pengolaha kerajinan di Hiri dan Tubo. Namun kerajinan anyaman disejumlah wilayah kini dalam kondisi terancam punah seperti anyaman saloi di Foramadiahi, sejumlah pengolahan pala dan jambulang, kerajinan tikar, alat musik tifa dan suling kini dalam keadaan punah akibat regenerasi yang tidak berjalan dengan baik.


