
Ternate bukan kota dengan daratan luas yang bisa terus-menerus “menyembunyikan” sampah di tempat pembuangan akhir. Sebagai kota pulau, setiap jengkal tanah adalah ruang hidup. Karena itu, pola lama pengelolaan sampah—kumpul, angkut, buang—sudah tidak layak dipertahankan. Pola ini bukan hanya usang, tetapi berbahaya. Ia membuat kita merasa seolah masalah selesai ketika sampah hilang dari depan rumah, padahal sebenarnya hanya berpindah tempat: ke TPA, ke selokan, ke pesisir, lalu ke laut.
Kritik paling mendasar harus diarahkan pada ketergantungan kita terhadap TPA. Selama TPA dianggap sebagai solusi akhir, masyarakat tidak didorong untuk mengurangi sampah dari sumbernya. Pemerintah pun cenderung sibuk mengurus hilir, bukan membenahi hulu. Padahal, bagi Ternate, TPA yang terus meluas berarti ancaman langsung terhadap kesehatan, ruang hidup, dan kualitas lingkungan. Sampah organik yang membusuk menghasilkan metana, gas rumah kaca yang memperparah krisis iklim. Sampah plastik yang tercecer bisa berakhir di laut, merusak ekosistem yang selama ini menjadi penyangga pangan, ekonomi, dan pariwisata warga.
Di titik inilah ekonomi sirkular dengan prinsip 5R—Refuse, Reduce, Reuse, Repurpose, Recycle—menjadi mendesak. Bukan sekadar jargon seminar atau poster kampanye, 5R harus menjadi cara baru warga Ternate memperlakukan barang, konsumsi, dan limbah.
Langkah pertama adalah refuse, berani menolak. Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya paling politis. Menolak kantong plastik sekali pakai, sedotan plastik, kemasan berlebihan, dan budaya konsumsi instan adalah bentuk perlawanan warga terhadap sistem yang membuat sampah menjadi tanggung jawab konsumen semata. Toko, restoran, pelaku usaha, dan produsen juga harus ikut bertanggung jawab. Tidak adil jika warga diminta memilah sampah, sementara produk sekali pakai terus membanjiri pasar tanpa kendali.
Berikutnya, reduce atau mengurangi. Masyarakat perlu mulai bertanya sebelum membeli: apakah barang ini benar-benar dibutuhkan? Apakah ada pilihan yang lebih tahan lama? Di tingkat rumah tangga, pengurangan sampah bisa dimulai dari membawa botol minum sendiri, menggunakan tas belanja ulang pakai, membeli seperlunya, serta mengurangi makanan terbuang. Perubahan kecil ini, jika dilakukan bersama, dapat mengurangi tekanan besar pada TPA.
Prinsip reuse dan repurpose membuka ruang yang lebih kreatif. Barang yang dianggap tidak berguna bisa dipakai kembali atau dialihfungsikan. Botol kaca menjadi wadah bumbu, kain bekas menjadi tas, kayu sisa menjadi perabot sederhana. Di tangan komunitas kreatif, sampah bisa naik kelas menjadi produk bernilai ekonomi. Di sinilah peluang lapangan kerja hijau terbuka, terutama bagi perempuan, anak muda, dan pelaku UMKM lokal. Ekonomi sirkular bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga bisa menghidupkan dapur keluarga.
Namun kita tidak boleh romantis. Recycle atau daur ulang di kota pulau seperti Ternate menghadapi tantangan serius. Biaya logistik mahal, fasilitas terbatas, dan pasar daur ulang belum kuat. Karena itu, pemerintah daerah tidak bisa hanya mengimbau masyarakat. Harus ada kebijakan nyata: memperkuat bank sampah, menyediakan fasilitas pemilahan di tingkat kelurahan, memberi insentif bagi usaha daur ulang, membatasi plastik sekali pakai, serta memberi sanksi bagi pembuang sampah sembarangan. Tanpa keberanian regulasi, 5R hanya akan menjadi slogan manis di spanduk.
Media, sekolah, kampus, komunitas agama, dan tokoh masyarakat juga punya peran penting. Kesadaran tidak lahir dari ceramah sesekali, tetapi dari pendidikan yang konsisten dan contoh yang terlihat. Anak-anak Ternate perlu tumbuh dengan kebiasaan memilah sampah, mencintai laut, dan memahami bahwa menjaga lingkungan adalah bagian dari menjaga rumah sendiri.
Jika sampah gagal dikelola, masa depan Ternate bisa muram: TPA penuh, banjir makin sering, penyakit meningkat, laut tercemar, ikan terkontaminasi plastik, dan pariwisata kehilangan daya tarik. Kota yang indah bisa berubah menjadi kota yang sesak oleh limbahnya sendiri.
Ternate masih punya kesempatan. Tetapi kesempatan itu tidak akan menunggu selamanya. Menyelamatkan Ternate harus dimulai dari keberanian mengubah cara hidup, cara berbisnis, dan cara pemerintah membuat kebijakan. 5R bukan sekadar program lingkungan; ia adalah napas baru pembangunan kota pulau.
Sebab mencintai Ternate tidak cukup dengan mengagumi mataharinya. Kita juga harus berani menjaga tanah, laut, dan masa depannya dari sampah yang kita hasilkan sendiri.
Penulis: Muhammad Assagaf


