Catatan Hari Buku 17 Mei

17 Mei (kemarin) bangsa Indonesia memperingati hari buku Nasional. Dicetuskan pertama kali pada 2002 oleh Menteri Pendidikan Nasional saat itu, A. Malik Fajar.
Tanggal ini dipilih karena bertepatan dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional RI (PERPUSNAS) berdasarkan Keputusan Mendikbud nomor 0164/0/1980.
Peringatan hari buku ini sebenarnya berangkat dari keprihatinan Mendikbud pada data UNESCO 2002 menunjukkan Tingkat literasi Indonesia hanya 87,9%, di bawah Malaysia, Vietnam dan Thailand. Produksi bukupun baru sekitar 18.000 judul/tahun, jauh tertinggal dari Jepang (40.000) dan China (140.000)
Bagaimana saat ini? Menurut data.goodstats.id tingkat Literasi di Asia Tenggara, Indonesia mencapai 96,53%, menempati peringkat ke-5 di ASEAN. Angka ini berada sedikit di atas Malaysia 95,71%, tetapi di bawah Vietnam 98,63%. Untuk tingkat kegemaran membaca Indonesia no urut ke tiga 5,91 buku per tahun atau 129 jam per tahun dibawah Singapura 6,72 buku per tahun atau 155 jam per tahun dan Thailand 6,37 buku per tahun atau 149 jam per tahun. Setelah Indonesia ada Filipina urutan ke empat, Vietnam urutan ke lima dan Malaysia urutan ke enam. Ini untuk Kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan hasil studi Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, Indonesia menempati peringkat ke-63 dari 81 negara untuk kemampuan literasi membaca.
Dalam hal kuantitas penerbitan buku secara nasional, Indonesia merupakan salah satu yang paling produktif di Asia Tenggara. Indonesia menerbitkan sekitar 30.000 judul buku per tahun, Malaysia menerbitkan sekitar 19.000 judul buku per tahun, Thailand menerbitkan sekitar 17.000 judul buku per tahun dan Vietnam berdasarkan data historis yang dihimpun UNESCO/Wikipedia, berada di kisaran 24.000 judul buku.
Digitalisasi dan Tantangan bagi Buku Cetak
Namun, di tengah gempuran digitalisasi saat ini, buku tetap bertahan sebagai media abadi yang memiliki nilai istimewa. Buku bukan sekadar media penyampai informasi, melainkan juga wadah gagasan, budaya, dan peradaban yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Kehadiran teknologi digital memang membawa tantangan bagi eksistensi buku cetak. Data menunjukkan bahwa banyak orang kini lebih memilih membaca melalui layar ponsel atau tablet karena dianggap lebih praktis dan efisien. E-book, artikel daring, dan audiobook menjadi alternatif yang diminati, terutama oleh generasi muda.
Meskipun informasi digital menawarkan kecepatan akses, tidak semua konten di internet memiliki keakuratan dan kedalaman yang sama seperti buku. Buku melalui proses kurasi, penyuntingan, dan penerbitan yang ketat, sehingga isinya dapat dipertanggungjawabkan.
Selain itu, membaca buku juga memberikan pengalaman berbeda. Kita bisa fokus, tenggelam dalam alur cerita, dan memahami isi buku secara utuh tanpa gangguan notifikasi atau iklan seperti saat membaca di layar gadget.
Sejak dulu, buku telah menjadi sarana utama untuk menyimpan dan menyebarkan ilmu pengetahuan. Dari kitab-kitab kuno hingga buku-buku modern, manusia selalu mencatat berbagai hal penting dalam bentuk tulisan yang dibukukan. Buku memungkinkan kita untuk mempelajari berbagai topik secara sistematis, terstruktur, dan mendalam.
Menurut laporan Nielsen BookScan (2022) menunjukkan bahwa 70% penjualan buku global masih berasal dari buku fisik artinya, buku cetak masih tetap dominan. E-Book di posisi kedua dengan pertumbuhan e-book melambat. Meskipun meningkat pesat pada 2010-an, penjualan e-book cenderung stagnan sejak 2019.
Data dari Pew Research Center (2023) menyebutkan bahwa Gen Z menunjukkan ketertarikan baru terhadap buku fisik, terutama karena estetika dan pengalaman sensorik yang diberikan.
Buku dan Digitalisasi: Bukan Saingan, tapi Pelengkap
Meski terlihat saling bersaing, buku dan teknologi digital sejatinya bisa berjalan berdampingan. Kehadiran e-book dan audiobook justru membuka peluang baru dalam dunia literasi. Buku kini dapat diakses dalam berbagai format, memudahkan siapa saja untuk membaca di mana saja dan kapan saja.
Banyak perpustakaan, toko buku, dan penerbit yang sudah menyediakan versi digital dari buku-buku cetak. Bahkan beberapa penulis muda kini memulai karier mereka lewat platform digital sebelum menerbitkan buku fisik.
Kolaborasi antara buku cetak dan digital inilah yang seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan literasi di era modern.
Mengapa Buku Tetap Istimewa di Era Digital?
Ada beberapa alasan mengapa buku tetap memiliki nilai istimewa, meskipun digitalisasi berkembang pesat, pertama, pengalaman membaca yang lebih mendalam. Membaca buku fisik memberikan pengalaman membaca tanpa gangguan digital. Aroma kertas, lembaran yang disentuh, serta kenikmatan menyusuri halaman demi halaman memberikan sensasi yang tidak ditemukan di layer. Kedua, kredibilitas Isi. Buku melalui proses penulisan, penyuntingan, dan penerbitan yang terkontrol sehingga isi dan referensinya bisa dipertanggungjawabkan. Berbeda dengan konten digital yang kadang kurang valid. Ketiga, Sebagai Warisan Budaya dan Sejarah. Buku menjadi saksi perjalanan peradaban manusia. Banyak karya sastra, catatan sejarah, dan teori ilmiah yang tercatat dalam buku dan masih relevan hingga saat ini. Keempat, Tidak Bergantung Teknologi. Buku fisik dapat dibaca kapan saja tanpa perlu baterai atau jaringan internet. Di saat tertentu, buku justru menjadi penyelamat di saat akses teknologi terbatas. Bahkan menjadi teman perjalanan yang menyenangkan.
So,…selebihnya, tetap menjaga kewarasan dengan terus membaca. Baik membaca dalam format buku (fisik) maupun dalam bentuk digital. Keduanya sama-sama menambah pengetahuan dan pengalaman. Selamat Hari Buku dan selalu terus membaca.
Penulis: Syarifuddin Usman


